Menjadi penulis pemula itu sering kali capek duluan, bahkan sebelum benar-benar menulis. Bukan karena kehabisan ide, tapi karena terlalu banyak yang dipikirkan. Takut salah, takut tulisannya jelek, atau takut tidak ada yang mau baca.

Aku sering menemukan orang yang sebenarnya sudah siap menulis. Ide ada, niat ada. Bahkan sudah sempat baca banyak artikel dan nyatet ini itu. Tapi begitu mau mulai, malah berhenti. Seakan-akan tulisan pertama harus langsung rapi dan sempurna.

Padahal kenyataannya, hampir semua penulis memulai dari tulisan yang biasa saja. Kadang berantakan, kadang tanggung, dan sering kali tidak sesuai harapan. Tapi justru dari situ proses belajar menulis benar-benar jalan.

Mulai dari Hal yang Kamu Pahami

Banyak penulis pemula langsung ingin menulis hal besar. Topik berat, opini panjang, atau sesuatu yang kelihatannya pintar. Masalahnya, semakin jauh topiknya dari keseharian sendiri, biasanya semakin susah juga menuliskannya.

Menulis jadi lebih ringan kalau kamu paham betul apa yang sedang kamu tulis. Tidak harus ahli. Cukup pernah mengalami, melihat, atau memikirkannya sendiri. Dari situ, kata-kata biasanya lebih mengalir, dan kamu tidak terlalu sibuk menebak-nebak.

Tulisan pemula sering terasa kaku bukan karena bahasanya jelek, tapi karena penulisnya sendiri tidak yakin dengan apa yang ia tulis. Saat topiknya terasa asing, tiap kalimat seperti dipaksa untuk terdengar benar.

Kalau masih di tahap awal, tidak ada salahnya mulai dari hal sederhana. Cerita pengalaman sendiri, pendapat tentang sesuatu yang dekat, atau hal kecil yang sering kamu temui. Tulisan seperti ini justru terasa lebih jujur dan lebih enak dibaca.

Jangan Terlalu Lama Menunggu Tulisan Terasa Bagus

Keinginan agar tulisan terasa bagus sejak awal sering jadi penghambat terbesar. Baru menulis beberapa paragraf, lalu berhenti untuk membaca ulang, menghapus, dan mengganti kalimat yang sama berkali-kali.

Padahal, di tahap itu, tulisannya memang belum apa-apa. Alurnya belum jelas, bahasanya belum rapi, dan itu wajar. Kalau tiap beberapa kalimat kamu berhenti untuk merapikan, tulisan justru tidak pernah bergerak ke mana-mana.

Menulis itu proses yang berantakan di awal. Kalimatnya bisa loncat-loncat, idenya bisa tidak urut. Biar saja. Yang penting, tulisan itu selesai dulu. Urusan enak dibaca bisa datang belakangan.

Biasakan Menulis Sedikit, Tapi Rutin

Banyak orang merasa harus punya waktu panjang dulu untuk bisa menulis. Harus menunggu senggang, harus menunggu mood, atau harus menunggu hari yang terasa pas. Akhirnya, tulisan malah jarang benar-benar dimulai.

Padahal, menulis tidak selalu butuh waktu lama. Kadang lima belas atau dua puluh menit sudah cukup untuk menuangkan satu ide. Yang bikin berat biasanya bukan durasinya, tapi kebiasaan menundanya.

Kalau menulis sudah jadi kebiasaan kecil yang rutin, prosesnya terasa lebih ringan. Tidak harus setiap hari menulis panjang. Menulis sedikit, tapi sering, biasanya jauh lebih membantu daripada menunggu satu waktu ideal yang tidak pernah datang.

Pelan-pelan, kamu akan terbiasa duduk, membuka catatan, dan menulis tanpa terlalu banyak pertimbangan. Dari situ, ritme menulis mulai terbentuk dengan sendirinya.

Belajar Membaca Tulisan Sendiri sebagai Pembaca

Setelah tulisan selesai, banyak penulis pemula langsung merasa lega lalu menutupnya begitu saja. Atau sebaliknya, terlalu lama menatap layar sampai akhirnya bingung sendiri.

Coba beri jarak sebentar sebelum membaca ulang. Tidak perlu lama. Kadang cukup beberapa jam atau keesokan harinya. Saat dibaca ulang dengan kepala yang lebih tenang, biasanya kamu bisa melihat bagian mana yang terasa janggal atau terlalu bertele-tele.

Baca tulisan itu seolah-olah kamu bukan penulisnya. Apakah alurnya bisa diikuti. Apakah ada kalimat yang terasa berat. Atau ada bagian yang sebenarnya bisa dipersingkat.

Tidak semua tulisan perlu diedit sampai sempurna. Tapi kebiasaan membaca ulang dengan sudut pandang pembaca akan membantu tulisanmu pelan-pelan jadi lebih rapi dan nyaman dibaca.

Terima Kalau Tulisan Awal Memang Tidak Akan Sempurna

Di awal belajar menulis, wajar kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Kadang sudah merasa menulis panjang, tapi setelah dibaca ulang rasanya hambar. Atau idenya sebenarnya menarik, tapi penyampaiannya masih berantakan.

Hal seperti ini hampir pasti terjadi. Bukan karena kamu tidak berbakat, tapi karena memang begitu prosesnya. Tulisan yang enak dibaca biasanya lahir dari banyak tulisan yang sebelumnya terasa biasa saja.

Kalau setiap kali merasa tidak puas lalu berhenti menulis, proses belajarnya ikut berhenti. Tapi kalau kamu bisa menerima bahwa tulisan awal memang tempatnya salah, canggung, dan belum rapi, kamu akan lebih berani lanjut ke tulisan berikutnya.

Pelan-pelan, tanpa terasa, kamu akan mulai tahu kalimat seperti apa yang terasa pas buatmu. Bukan karena membaca teori, tapi karena sudah melewati prosesnya sendiri.

Penutup

Kalau kamu baru mulai menulis, wajar kalau banyak hal terasa belum jelas. Tulisan terasa tanggung, idenya belum rapi, dan kadang kamu sendiri ragu dengan apa yang sudah ditulis. Itu bukan tanda kamu tidak cocok menulis. Itu bagian dari prosesnya.

Menulis tidak selalu soal hasil yang langsung kelihatan bagus. Lebih sering, menulis itu soal duduk, menulis apa yang bisa ditulis hari ini, lalu kembali lagi besok dengan kepala sedikit lebih ringan.

Tidak ada titik pasti yang menandakan kamu sudah siap jadi penulis. Yang ada hanya keputusan kecil untuk terus menulis, meski pelan, meski belum rapi, dan meski kadang terasa biasa saja.